Feeds:
Posts
Comments

Beginilah produk Vitamin C seharusnya… itu yang selalu terbesit dalam benak saya akhir-akhir ini. Awal mulanya saya lebih menyenangi produk Vitamin dalam bentuk effervescent, karena faktor psikologis terasa lebih menyegarkan. Hingga kemudian istri saya mengatakan “Cobain Enervon C deh”, tapi waktu itu pun saya belum mau coba. Karena pikir saya percuma saja, tidak akan memberikan efek yang kuat. Lama kelamaan saya mencoba, dan ternyata efek-nya jauh lebih baik dan dengan harga yang lebih terjangkau.

enervon-C

Tentunya sebagian orang masih ingat dengan gebrakan Vitamin C pertama yang mulai populer yaitu Xon Ce dengan model elma theana yang populer sejak iklan tersebut. Vitamin C mulai menjadi primadona saat itu untuk dikomersialkan sehingga mulai bermunculan produk-produk dengan beragam varian.

Efektivitas

Konsep pemasaran Enervon C luar biasa bagus. Isu daya tahan diangkat sehingga slogan “biar tidak gampang sakit” benar-benar efektif. Dan bukan slogan bohong. Saya sendiri merasakan manfaatnya. Jika sebelumnya saya konsumsi CDR dan produk imunomodulator secara rutin, masih saja sangat rentan untuk terkena flu. Tapi saat ini dengan konsumsi rutin, begitu ada gejala flu maka tidak sampai sakit Alhamdulillah sudah segera sembuh.

Walau tidak bekerja langsung pada sistem imun, Vitamin C masih memiliki peran untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Dimana saat ini juga mulai gencar produk imunomodulator. Mungkin dengan seiring berkembangnya produk herbal imunomodulator, harga bisa lebih murah dan dikombinasikan dengan lainnya.

Marketing

Dari sisi pemasaran, sepertinya Medifarma tidak hanya mengandalkan iklan yang bersifat massal. Event-event below the line juga agresif dijalankan. Dan yang lebih efektifnya lagi, banyak dokter yang masih meresepkan enervon c ini kepada pasien. Sehingga peran dokter sebagai endorser sangat-sangat efektif, ditambahkan dengan kombinasi awareness melalui ATL dan BTL.

Band “Gigi” sebagai endorser membawakan sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir ini. Distribusinya juga sangat luas sehingga mudah didapat dimana-mana.

Dari sisi harga, terbilang ekonomis walau bukan yang termurah. Jika CDR satu tablet-nya senilai 2.700 Rupiah, maka satu tablet enervon C harganya sekitar 900 Rupiah (kemasan isi 30). Walaupun kandungan Vitamin C hanya 500mg, tapi bisa dikonsumsi 2x dalam sehari dan itupun masih lebih murah. CDR mungkin tidak bisa jadi pembanding, karena ada tambahan kalsium. Mungkin yang sepadan adalah Redoxon dengan harga yang tidak jauh berbeda. Vitacimin atau Xon Ce dengan kandungan 500mg, bermain di harga sekitar 500 Rupiah per tablet hisapnya.

One stop multivitamin, mungkin ini yang ingin diusung oleh enervon C walaupun agak berlebihan karena masih ada produk lain yang mungkin lebih lengkap.

Kesimpulan

Suksesnya enervon C untuk mencoba menguasai pasar tentunya didukung oleh beberapa hal antara lain:

  1. Kualitas produk yang memang terbukti bagus.
  2. Distribusi yang baik
  3. Harga yang tepat, sesuai dengan yang ditawarkan. Tidak terlalu mahal.
  4. Pemasaran yang komprehensif. Tidak tanggung, semua channel dioptimalkan. skala ekonomis menjadi concern, sehingga pemasarannya memang harus all out, namun tetap efektif.

Rasanya tidak berlebihan jika Enervon C ingin memiliki Visi “Vitamin C yang harus ada di tiap rumah”.

 

Think Different

“Think Different” adalah slogan di balik produsen iPod / iPhone yaitu Apple. Apple merupakan salah satu perusahaan yang dikenal dengan inovasi yang unggul. Berbeda dengan perusahaan kebanyakan, perusahaan ini sangat percaya bahwa inovasi akan menghasilkan margin keuntungan yang lebih baik ketimbang berlomba-lomba mengejar market share namun margin-nya tipis.

Itu menjadi salah satu alasan bahwa produk Apple selalu berada di kisaran harga yang lebih tinggi dibandingkan produk-produk lain, tentunya karena inovasi yang ditawarkan.

Inovasi Apple berawal dari konsep “Think Different”, Apple tidak ingin produknya sama dengan produk-produk lain, termasuk logo-nya. iPod, iPhone, MacBook adalah bukti nyatanya. 10 tahun lalu, konsep touchscreen adalah selalu menggunakan “stylus”, namun Apple menyatakan bahwa tidak ada alat kontrol yang lebih baik selain “telunjuk” kita sendiri.

THE APPLE WAY

“Focus & Consistent” merupakan prinsip yang selalu dianut. Sebut saja produk iPod, iPhone, MacBook, Server, dan sebagainya, tidak banyak varian yang ditawarkan. Perbedaan hanya dalam hal warna, kecepatan prosesor untuk komputer, dan perbedaan memory. Sikap “Focus” membuat Apple untuk benar-benar memperhatikan kualitas dari produk yang akan dipasarkan. Sehingga memang muncul kesan “lambat” dalam meluncurkan produk-produk baru, tapi itu disebabkan oleh sikap “hati-hati” dalam meluncurkan tiap produknya.

Apple fokus bahwa tiap produk yang diluncurkan harus menjadi unggulan dan memiliki margin yang besar. Demikian pula dengan konsistensi yang telah terbukti dalam perjalanan bisnisnya, tidak goyah oleh situasi industri maupun ekonomi global.

THINK DIFFERENT di tempat lain

Apple bukan satu-satunya perusahaan yang berpikir inovasi, namun dengan cara yang berbeda. Sangat jelas bahwa jika suatu perusahaan ingin menjadi terbaik maka harus memiliki “Keunggulan yang Berbeda”, “lebih baik” tidaklah cukup dan kemudian yang penting juga dijalankan secara konsisten. Misalnya saja Google, Toyota, Nintendo, dan Microsoft yang tercatat sebagai Top 5 perusahaan paling inovatif tahun 2009.

Bagaimana Memulai?

  1. Ada pembandingnya, untuk dijadikan acuan bahwa kita akan berbeda.
  2. Berpikir “Apa yang Customer SEHARUSNYA butuhkan”.
  3. Mencoba “Out of the Box” untuk menghasilkan inovasi yang benar-benar “Luar Biasa”, sekedar lebih baik tidak cukup.
  4. Jalankan / eksekusi “Inside the Box”. Sehingga konsep “different” tadi menjadi lebih membumi dan dapat dijalankan sesuai koridor perusahaan.
  5. Terus berinovasi, karena umur suatu “inovasi” tidak lama. Dalam hitungan bulan bahkan hari bisa jadi akan sudah mulai diikuti oleh kompetitor.

Pemikiran dan implementasi “Think Different” tidak hanya pekerjaan dari bagian tertentu, tapi oleh seluruh tim dalam organisasi.

KPPU lagi-lagi menunjukkan tumpulnya kompetensi dalam analisis persaingan usaha tidak sehat.

KPPU lupa siapa yang harus dibela. Jelas-jelas masyarakat menikmati coverage dari carrefour. Permasalahan kebijakan trading term adalah urusan bisnis, bukan KPPU. Jika ada supplier yang merasa dirugikan ya jangan pilih carrefour sebagai saluran distribusi.

Monopoli tidak dilarang, tapi praktek2 yang dapat merugikan konsumen lah yang harus ditegakkan. Ini bukan kasus pertama KPPU memberikan vonis yang jelas tidak masuk akal.

Banyak pasal yang tidak jelas dan dapat digunakan oleh oknum2 tertentu untuk menjatuhkan suatu perusahaan.

Peringatan Hari Pelanggan

Berita diambil dari Suarasurabaya.net
RS Adi Husada Merefleksikan Pentingnya Makna Pelanggan

suarasurabaya.net| Merefleksikan pentingnya makna pelanggan, RS Adi Husada Undaan Wetan menggelar beragam kegiatan mulai 31 Agustus hingga 5 September 2009. Diantaranya, pencanangan Pekan Pelanggan dan pemasangan Pin yang dilakukan Direktur RS Adi Husada Undaan Wetan, Senin (31/08) ini.

Kegiatan lainnya, gerakan seluruh karyawan rumah sakit dengan 3S yakni Senyum, Salam dan Sapa Pelanggan. Dr ANANG PITOYO Ketua Panitia Acara pada suarasurabaya.net, mengatakan, masyarakat bisa memanfaatkan pemeriksaan kesehatan secara gratis dalam rangkaian peringatan Hari Pelanggan yang jatuh pada 4 September.

“Kita akan melakukan pemeriksaan tensi dan gula darah secara gratis pada 1 September, pemeriksaan Osteoporosis dan konsultasi gratis pada 2 September, pemeriksaan dan konsultasi gizi gratis pada 3 September. Dalam kegiatan ini masyarakat bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,”ujar ANANG.

Kegiatan selanjutnya, sebut ANANG, kejutan bagi pelanggan yang melakukan transaksi dengan rumah sakit pada 4 September dan 5 September digelar pemilihan karyawan pemberi pelayanan terbaik ke pelanggan. Untuk pemilihan karyawan dilakukan dewan juri dengan 7 kriteria yakni pelayanannya, pro aktif, kedispilinan, kerjasama, komitmen pada organisasi, keinginan menciptakan prestasi dan jiwa kepemimpinan.

Menurut ANANG, pemilihan karyawan ini merupakan kali kedua hanya berbeda dari sisi penilaian. “Panitia ingin membuat metode dengan 7 kriteria yang sifatnya transparan dan bisa dinilai berbagai kalangan. Seperti halnya, ajang pemilihan umumnya, ada proses seleksi, wawancara dan pengisian kuisioner dan itu semua ada skornya. Hadiah yang disediakan mulai uang tunai, piagam sampai hadiah hiburan,”ujarnya.

Peringatan Hari Pelanggan, kata ANANG, tujuannya adalah memberikan makna pelanggan bagi kelangsungan rumah sakit dan memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan rumah sakit. Pelanggan rumah sakit, tidak hanya pasien saja tapi juga para pemasok rumah sakit.

Untuk menambah wawasan pada karyawan, RS Adi Husada Undaan Wetan juga menggelar seminar “Makna Pelanggan Dalam Pelayanan Prima Di Rumah Sakit“ dengan menghadirkan dua pembicara yakni LEO KUNCORO Training Manager dan SATRIO PRAMUDONO Customer Service Manager PT Anugerah Argon Medika.

Menurut SATRIO memberikan pelayanan prima pada pelanggan tidak lepas dari komitmen manajemen yang terkait dengan visi dan misi. Kalau dalam visi dan misi memang ada service customer, bisa disosialisasikan pada setiap personil dan dikaitkan dengan job desk-nya. Dan ini semua ada indikatornya.

“Sekarang ini makin banyak penghargaan terkait dengan pelayanan prima oleh konsultan maupun lembaga indipenden. Diantaranya, Customer Service Award. Sedangkan untuk pelayanan prima bentuknya seperti apa di layanan kesehatan, harus dilihat dari sisi SDM-nya,”ujarnya. (tin)

Dalam beberapa perusahaan kategori Vertical Market, biasanya dikenal divisi “Business Development”. Perannya adalah mencari klien / principal untuk meningkatkan nilai bisnis yang saat ini dimiliki. Perannya sebenarnya lebih ke arah “Sales” pada kebanyakan “Horizontal Market” namun dalam target client yang lebih terbatas dan membutuhkan pengetahuan bisnis yang dalam.

Business Development tidak lagi bersifat pasif dalam arti menunggu Principal untuk datang menghubungi, melainkan sudah berperan aktif dalam menjajaki dan membina hubungan dengan para calon-calon Principal tersebut. Bagi pelaku “Business Development” yang sudah senior, membina hubungan tidaklah sulit. Karena orang-orangnya bisa jadi merupakan kolega lama, kenalan dalam sesi tertentu, dan sebagainya. Sehingga sempat diidentikan bahwa seorang Business Development pastinya orang yang sudah senior dan memiliki jaringan bisnis yang luas.

Walaupun jaringan merupakan modal yang utama, pengetahuan mengenai industri pun tidak kalah pentingnya untuk meyakinkan kepada calon client bahwa Business Development tersebut memang orang yang capable dan perusahaan yang diwakili-nya bisa memberikan solusi.

Pada jurnal ini akan dibahas mengenai Business Development yang Agresif mengenai modal dasar di luar (1) Jaringan, dan (2) Pengetahuan Industri, yaitu (3) Market Exploration. Sudah banyak konsep mengenai membangun Jaringan dan juga Pengetahuan Industri. Mulai dari pertemanan kecil, hingga hanya sekedar membaca majalah atau koran untuk menambah wawasan. Namun pada modal ke-tiga ini tidak bisa hanya didasarkan pada pengetahuan, melainkan sebuah keahlian.

Market Exploration

Berbicara market exploration bukan mengenai mengetahui ini itu dan lain sebagainya, melainkan berbicara mengenai keahlian dalam memanfaatkan peluang yang ada untuk menghasilkan solusi yang inovatif. Formula Market Exploration secara sederhana melalui beberapa tahap:

  1. Penguasaan terhadap pengetahuan Pasar
  2. Analisa potensi bisnis
  3. Solusi Inovatif

Untuk tahap pertama bisa dilalui dengan adanya pengalaman, mengikuti berbagai seminar, sharing, dan sebagainya yang bersifat memperkaya ilmu. Disamping itu bisa juga dengan pendekatan penelitan melalui survey, FGD, interview, dan seterusnya untuk menghasilkan sebuah resume pengetahuan yang akurat dan lengkap.

Pada tahap kedua ini mulai diperlukan inteligensia yang lebih tinggi. Dibalik laporan yang bersifat kualitatif maupun kuantutatif selalu tersimpan potensi tersembunyi yang harus dikorek. Penekanan saya adalah pada kata Selalu tersimpan potensi. Jika tidak jeli, maka potensi ini tidak akan terlihat. Semakin sering melakukan analisa, maka semakin peka terhadap berbagai macam peluang tersebut. Kuncinya adalah dengan bersikap kritis.

Di tahap ketiga merupakan produk dari tahap ke-dua. Menjadi kritis tidak akan berguna jika tidak bisa menghasilkan solusi yang lebih baik. Mengkritisi jauh lebih mudah ketimbang memikirkan bagaimana solusinya. Orang-orang yang bisa menghasilkan solusi inovatif adalah orang-orang yang gifted, atau sering juga disebut sebagai seniman. Bedanya seniman kali ini bekerja di kantor berpenampilan rapi. Karya-karya-nya adalah rangkaian keberhasilan yang diperoleh dalam mendapatkan klien-klien baru.

Ilustrasi

Pada tahapan kedua dijelaskan bahwa perlunya kekuatan analisa potensi bisnis, maka awal mulanya adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang menyebabkan client akan berpindah atau mencari mitra bisnis yang baru? Alasannya hanya satu, karena ingin mendapatkan yang lebih baik. Kebanyakan kejadian disebabkan client yang tidak puas dengan mitra bisnis saat ini. Tapi ternyata tidak selalu demikian,bukan berarti yang saat sedang ada kerja sama jelek, tapi mereka melihat ada peluang yang lebih baik.
  2. Persoalannya, bisa jadi client ini memang sudah puas dengan mitra kerja-nya. Sehingga diperlukan “alat penggoyang” untuk membuat mereka melirik mencari yang lebih baik. Untuk membuat goyang bisa dengan cara berikut:
    1. Memberikan informasi bahwa ada potensi yang lebih baik, dan ini disampaikan secara kontinyu. Seolah-olah kita sudah menjadi mitra kerja-nya.
    2. Menunjukkan selalu kapabilitas yang dimiliki, membuat calon klien merasa iri. Sesuai peribahasa “rumput tetangga lebih hijau”.
  3. Untuk menggoyang tentunya diperlukan komitmen agar tidak menimbulkan “over-promised”.
  4. Tim Business Development harus rela bekerja kertas untuk hasil yang mungkin baru bisa diperoleh secara jangka panjang. Karenanya diperlukan orang yang memiliki “seni” untuk terus berjuang. Justru orang sales lapangan yang sangat berorientasi pada closing sangat tidak cocok, karena hasil yang terlalu lama akan membuat dirinya patah semangat dan kurang termotivasi.

Penutup

Dengan 4 tahapan yang diuraikan di atas tentunya membuat tim Business Development semakin tampil agresif. Silakan dicoba.

Melihat blackberry dimana-mana bisa membuat kepincut juga untuk coba device yang satu ini. Logika-nya semua fasilitas yang ada di blackberry bisa dikatakan mediocre alias biasa-biasa aja. Masih banyak handset lain dengan fitur yang lebih bagus. Tapi anehnya, penggunaan blackberry makin lama makin bertambah. Bahkan anak SD pun sudah ada yang menggenggam bold sebagai komunikasi hariannya.

Blackberry makin populer, setidaknya di Indonesia sekarang. Tahun ini adalah tahunnya blackberry. Iphone yang diluncurkan telkomsel sepertinya memiliki greget yang kurang. Maklum aja, mahal banget, dan keterlaluan. 12 juta untuk alat yang juga “biasa-biasa” aja. 2x-nya blackberry. Mari kita kupas fitur blackberry satu per satu.

Push Email, kayanya cuma ini aja keunggulan dari blackberry. Bisa push mail dengan cepat. Tapi sekarang sudah banyak provider yang menyediakan push mail, sebut saja nokia mail, seven, emoze, morange, dan sebagainya.

Blackberry messenger, atau istilah lainnya PIN Messenger. Ini memungkinkan komunikasi antar blackberry. Sama aja sih seperti yahoo, kirim foto, video, suara, dsb..

Browsing, ini gak banget… Lambat udah gitu gak support flash. Yang bikin asik adalah trackball-nya. fungsinya kaya mouse. Harusnya nokia mulai mencontoh penggunaan trackball. Bagus tuh.

Multimedia, standar lah… bedanya semua handset blackberry sudah support untuk earphone 3.5″, jadi pake tipe apa saja bisa.

Camera, juga standar untuk foto dan rekam.

GPS, masih bagusan nokia jauh lah.. lebih cepat pula

Wifi, Iphone dan Nokia jauh lebih baik.

Bluetooth, ini fitur paling amit2 dari blackberry. Sama sekali ribet. Harus pair, trus receive-nya pun harus buka multimedia folder dulu.

Desain, ini memang ok… rasanya bolehlah nenteng blackberry kemana2, apalagi pake model keluaran terbaru. Terkesan orang sibuk, tapi juga autis. Karena dimana2 sibuk lihat layar handset.

Jadi kenapa pilih blackberry? Gaya, fungsi, atau iseng?

http://xlnworld.wordpress.com/2008/12/10/rim-blackberry-dan-nokia-e90-communicator/

Autis dalam Organisasi

Istilah autis ini mendadak terkenal lantaran semakin booming-nya penggunaan blackberry saat ini di Indonesia terutama Jakarta. Penggunaan kata autis ini mungkin disebabkan kecenderungan orang-orang yang sudah memegang blackberry menjadi lupa akan dunia luar, sibuk dengan pesan-pesan yang muncul di handset tersebut. Bisa dikatakan ini adalah fenomena kecanduan dari penggunaan blackberry. Sehingga autis ini sebenarnya memberikan makna orang yang asik sendiri, ya bahasa umumnya just make fun for ourselves.

Oleh karena itu saya ingin menganalogikan istilah autis ini (dalam definisi life style: bukan istilah untuk penyandang autisme sebenarnya) terhadap lingkungan dalam organisasi yang jelas-jelas ternyata memiliki banyak kesamaan. Autis dalam arti “Asik Sendiri” ternyata cukup banyak ditemui dalam lingkungan kerja.

Gejala

Apa ciri-ciri atau gejala autis dalam organisasi? Mudah saja, kita seringkali menemukan bahwa tiap bagian ternyata begitu sibuknya mempertahankan apa yang menjadi kinerja bagiannya dan tidak jarang menimbulkan konflik dalam organisasi. Konflik ini kemudian akhirnya merugikan bagi layanan kepada pelanggan dan apalagi kepada organisasi.

Lebih jelasnya lagi kita mungkin menemukan beberapa individu ingin tampil menonjol dengan menunjukkan kompetensinya namun secara jelas pula mengesampingkan tujuan utama dari organisasi. Kita juga mungkin akan banyak melihat proyek-proyek yang diluncurkan dalam organisasi, terlihat demikian sibuk, menghabiskan banyak dana, namun lagi-lagi tidak memiliki dampak atau kontribusi yang nyata terhadap tujuan organisasi.

Karena ternyata tidak sedikit suatu departemen yang begitu asik dengan tujuannya, dan lagi-lagi lupa atau bahkan mengabaikan tujuan dari organisasi. Karena orang-orang yang dalam organisasi tersebut begitu tergila-gilanya kepada kinerja individual.

Meskipun sudah ada teori mengenai “Balanced Scorecard” yang cukup kompleks, namun teori itu sulit diterima bagi orang-orang yang sudah merasa “benar”. Akibatnya banyak strategi dan proyek dimunculkan sebagai alat untuk “memeriahkan” organisasi, sebagai indikator yang menunjukkan bahwa organisasi begitu dinamis dan aktif namun sebenarnya rapuh.

Mengatasinya

Jika sudah demikian maka untuk memutus fenomena autis ini mau tidak mau adalah dengan jalan radikal. Memutus semua penyebab “keasikan sendiri” dalam suatu bagian. Sudah waktunya tiap bagian diberi tantangan dan terutama diukur mengenai kontribusinya terhadap organisasi.

Pemilik bagian tentunya harus yang pertama kali membuka mata, bahwa masalah bagian yang lain juga merupakan bagian dari masalahnya. Untuk menjadikan kesamaan tujuan ini maka bisa dibantu dengan cara:

  • Menempatkan tujuan sekaligus ukuran keberhasilan yang sama untuk seluruh bagian dalam organisasi. Dengan demikian, tiap organisasi akan selalu berpikir dua kali apakah yang akan mereka lakukan memberikan manfaat atau justru merugikan bagi organisasi.

Dengan demikian sebenarnya tidak sulit untuk mengurangi aktivitas-aktivitas yang bernuansa autis dalam organisasi. Dalam internal organisasi juga diperlukan orang-orang yang berani berbicara kritis dan mampu menyampaikan usulan-usulan perbaikan, sehingga itulah sebuah organisasi yang dinamis dan aktif bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang asik sendiri.

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar Apple? Mudah saja anda akan menyebutkan iPod, Macbook, ataupun iPhone, bahkan mungkin sosok Steve Jobs. Tidak seperti pabrikan lainnya, Apple tidak banyak menghasilkan variasi produk. apple adalah sebuah pembuat mp3 player, notebook, server, dan telepon genggam. Dimana tiap kategori produknya pun tidak memiliki banyak tipe.
Langsung terbayang dalam benak saya, betapa efisiennya proses produksi Apple. Membuat telepon genggam hanya satu tipe, iPod yang hanya terdiri dari 3-5 tipe saja..

My Community is My Salesman

Sebelumnya sudah ada artikel yang bertemakan “My Customer is My Salesman”, idenya adalah menjadikan pelanggan tidak hanya sebagai ambasador tapi juga sebagai influencer. Menjadikan pelanggan sebagai influencer tentunya harus melewati beberapa tahapan dan harus diikuti dengan program-program yang menstimulus konsep tersebut untuk dijalankan.

Wikinomics, sebagaimana yang dijelaskan detail pada konsep tersebut menunjukkan bahwa bisnis atau industri yang eksis berkat kontribusi dari afiliasi-afiliasi independen. Para kontributor yang dimaksud kebetulan memiliki tujuan yang sama, sehingga terciptalah konsep open-source seperti linux, facebook, my space, friendster, youtube, dan makin banyak lagi pengikutnya.

Affiliation based Marketing

Bagi kami-kami yang belum mencapai tahapan wikinomics tersebut tentunya sangat mengidamkan kesuksesan yang sama. Sebagai langkah awal, maka sistem Facebook sangat bisa diaplikasikan ke dalam dunia nyata. Atau bahkan sebaliknya, aplikasi Facebook lah yang mencontoh konsep Multi-Level-Marketing. Namun karena persepsi yang cenderung negatif, popularitas MLM walau tinggi namun belum berhasil menggaet massa yang lebih massive. Mengapa?

  1. MLM orientasinya sangat kental dengan “bisnis”. Karena memang sasaran finansial yang hendak dicapai, dan tidak ada yang salah.
  2. Praktek yang salah sering menimbulkan kesan “pemaksaan” dan juga janji-janji yang berlebihan.
  3. Bagi yang “tidak berbakat” tentunya hanya menjadi obyek, dan merasa bahwa MLM hanya menguntungkan bagi upline-upline yang telah lebih dulu berjalan.
  4. Konsep upline dan downline mengakibatkan lingkup para downliners yang baru-baru ruang geraknya makin sedikit. Selain sudah banyak yang jadi anggota, orang lain yang non-member kebanyakan pun sudah pernah mendapat “prospek” dan tidak menarik.

Berbeda dengan Facebook atau komunitas online sejenis lainnya, Facebook berbasis pertemanan tanpa mengenal upline dan downline. Dan semuanya sejajar, yang membedakan tiap individu adalah berapa banyak teman yang sudah dimilikinya dan status-status yang melekat pada dirinya.

Facebook Marketing

Konsep marketing yang bercermin pada facebook sangat bisa diaplikasikan. Maksudnya begini, sebelum mengeluarkan banyak biaya dan juga usaha untuk melakukan aktivitas promosi ke external maka dimulailah dari lingkungan terdekat. Biasanya hal ini sudah pasti dilakukan, namun banyak juga yang tidak terkonsep. Maka untuk penerapannya perlu melihat beberapa langkah berikut:

  1. Pilih teman yang sekiranya memberikan kontribusi positif bagi anda. Pastinya teman yang memiliki jaringan pertemanan luas dan juga bersifat kritis. Jangan semuanya merupakan teman yang hanya setuju dengan anda, akibatnya pemasarannya nanti tidak dinamis. Pilihlah sebagian teman anda mungkin yang justru sering mengkritik anda.
  2. Ajak teman anda untuk memikirkan mengenai positioning dan juga cara pemasaran yang sesuai untuk produk atau layanan anda. Dengan demikian teman-teman anda ini memiliki rasa kepemilikan tanpa harus adanya penyertaan modal.
  3. Bagi teman-teman yang berkontribusi ini, tentunya mereka perlu diberikan insentif. Misalnya dalam bentuk komisi. Dan tentunya bukan paksaan. Hanya saja jika ada pembeli yang menyebutkan teman ada sebagai referensinya, maka teman anda berhak mendapatkan komisi tersebut.
  4. Perlu diingat bahwa tidak ada unsur paksaan. Teman-teman anda yang memberikan kontribusi pun bisa silih berganti dan tidak perlu terpatok pada teman-teman yang anda bentuk diawal.
  5. Teman-teman anda ini perlu dikukuhkan sebagai mitra platinum misalnya, selain untuk menghargai dengan segala hak-hak yang bisa diperoleh, identitas tersebut juga sebagai kelayakan bahwa teman anda memang layak untuk mengkomunikasikan produk/layanan anda.

Konsep Produk / Layanan

Marketing yang bagus tentunya harus didukung oleh produk / layanan yang bagus, sebaik-baiknya komunikasi hanya akan mengakibatkan “over promised” dan anda tidak lagi dipercaya. Sehingga itulah gunanya langkah 1 hingga 2, anda tidak perlu memikirkan segalanya sendirian. Semi FGD (Focus Group Discussion) ini akan sangat membantu mengembangkan produk yang tepat di pasar. Seperti tulisan sebelumnya mengenai “Product that Fit the Market”.

Dalam mengembangkan produk perlu dipikirkan mengenai:

  1. Target pasarnya siapa, apakah anak-anak, ibu-ibu, pria, mahasiswa, abg, atau bahkan all segment. Yang pasti target pasar harus jelas, dan sangat disarankan spesifik untuk mempermudah proses komunikasi selanjutnya.
  2. Positioning apa yang sesuai dengan target pasar tersebut. Positioning berguna untuk menjadi identitas atau asosiasi yang mudah diingat oleh calon konsumen yang tepat. Positioning pastinya harus menarik dan spesifik. Misalnya untuk bisnis kafe “Gratis kopi untuk mahasiswa”.
  3. Manfaat atau benefit produk / layanan tersebut yang diunggulkan, dibandingkan dengan kompetitor lain. Bisa menggunakan konsep paling murah, paling banyak, paling kenyang, paling cepat, paling enak, paling mudah, yang terpenting jelas pembedanya.
  4. Kemudahan akses. Misalnya lokasi toko yang strategis di dalam pusat perbelanjaan, atau belanja secara online, tersedia katalog atau display / contoh produk, bisa diantar, dan sebagainya.
  5. Layanan purna jual. Banyak penjual yang mengabaikan hal ini, misalnya barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar dan sebagainya, lantaran penjual memberikan batasan atau penolakan terlebih dahulu tanpa melihat apa permasalahannya. Yang terpenting dalam layanan purna jual adalah dalam hal complaint handling. Apapun keluhan yang disampaikan oleh pelanggan wajib diterima. Sesuaikan dengan kondisi pastinya.

Penutup

Tanpa perlu berpanjang lebar, karena aplikasi dari konsep ini sungguh praktis maka cukup disimpulkan bahwa konsep facebook sangat bisa dicontoh sebagai model pemasaran modern. Tidak harus memanfaatkan facebook sebagai media promosi, tapi dengan menciptakan facebook-facebook yang lain yang sesuai dengan bisnis yang hendak dijalankan.

Masih banyak fitur facebook yang bisa dicontoh disamping konsep pertemanannya, mulai dari update status, aplikasi, fans, dan sebagainya.

Pasar SMS Premium

Gencarnya promosi SMS premium seperti tidak habis-habisnya. Variasinya pun makin gila-gilaan. Walau tergolong mahal karena per sms yang diterima dikenakan biaya Rp.2000,- tapi sepertinya industri ini masih laris manis seperti halnya makanan kaki lima.

Hal yang menarik dari SMS premium adalah dari sisi konsumennya. Konsumen SMS premium ternyata datang dari masyarakat “bawah” dan juga ABG. Atau konsumen yang budget pulsa per bulannya tidak lebih dari 50 ribu Rupiah. Karena konsumen masyarakat bawah, maka vendor content yang laku pun adalah yang menyediakan kategori: Lagu, gambar, dan undian.

Tergolong jahat memang, para operator dan juga vendor yang menyedot untung justru dari para pengguna SMS premium yang sebenarnya tidak layak untuk menghamburkan uangnya sia-sia. Dengan dalih sebagai media hiburan, konten SMS premium bisa menimbulkan adiksi atau kecanduan. Tidak heran jika anak-anak yang sudah menggunakan HP bisa menghabiskan 50 ribu dalam sebulan atau bahkan lebih besar lagi.

Bagaimanapun industri musik pun terdongkrak kembali setelah sempat seret akibat merebaknya MP3 bajakan yang mengambil share penjualan kaset atau CD. Penjualan ring tone dan yang lebih heboh nada sambung sebagai basis income industri musik saat ini yang cukup potensial dan akan terus berkembang.

Tidak terasa memang jika untuk sekali akses SMS premium menyedot pulsa antara 2.000 – 20.000. Sehingga konsumen benar-benar perlu berhati-hati dengan minimnya informasi yang diberikan.

Pasar SMS premium sungguh luar biasa, dan tidak hanya musik. Jika disalahgunakan oleh para penyedia konten yang tidak bertanggung jawab, saat ini sudah banyak beredar content-content yang mulai menjurus kepada pornografi walau masih tidak terlalu ekstrim. Penyaringan informasi yang layak diterima oleh pengguna tidak bisa dilakukan, terlebih jika tadi market tersebarnya adalah para ABG dan juga para masyarakat yang “pas-pasan” namun teradiksi oleh konten SMS tersebut.

Wajar jika pasar SMS premium begitu riuhnya di kelas masyarakat tersebut. Karena mereka: (1) awam terhadap penggunaan GPRS untuk akses informasi yang lebih murah, (2) tidak memiliki sarana hiburan lain, dan (3) banyak membaca promosi2 SMS premium di media cetak yang sesuai pula dengan segmennya.

SMS premium dalam 5 tahun ke depan akan masih memiliki potensi yang sangat baik. Kecuali terjadi edukasi besar-besaran dan teknologi handset yang menyediakan akses informasi seperti internet bisa lebih murah, maka industri konten bisa mulai tergeser.

Older Posts »